Yuk, Belajar Bertani Cabai dari Petani Korea!

July 2, 2013 Negeri Tetangga  4 komentar

cabai_korea0001

Sahabat Organik, kali ini kita akan “jalan-jalan” sejenak mengintip teknik budidaya cabai merah di negeri ginseng, Korea. Kita tahu bahwa Korea termasuk salah satu negara di Asia yang cukup maju teknologi pertaniannya. Nah, sekarang mari tengok gambar-gambar berikut ini yang memberikan gambaran bagaimana budidaya cabai di sana, mulai dari pembibitan sampai panen. Saya hanya merangkum garis besarnya saja, adapun gambar-gambar dan penjelasan lebih detailnya bisa Sahabat eksplorasi pada sumber aslinya di: http://blog.daum.net/n209e/13399411.

Nurseri pembibitan cabai

Gambar 1. Nurseri pembibitan cabai, di mana benih cabai disapih menggunakan seed tray (baki benih) selama beberapa minggu sampai siap tanam.

Berbagai macam baki benih.

Gambar 2. Berbagai macam baki benih.

Baki benih (seed tray) bisa kita dapatkan di toko pupuk atau toko alat pertanian yang lebih lengkap. Baki benih bisa dipakai berulang-ulang asal dirawat dengan baik.

Petani tengah menyiram bibit sebelum ditanam.

Gambar 2. Petani tengah menyiram bibit sebelum ditanam. Di sebelah kanan tergeletak alat manual untuk membentuk bedengan.

 

Petani tengah menyiapkan bibit yang akan ditanam.

Gambar 3. Petani tengah menyiapkan bibit yang akan ditanam.

 

Beginilah cara melubangi plastik mulsa untuk lubang tanam.

Gambar 4. Beginilah cara melubangi plastik mulsa dan sekaligus menugal tanah untuk membuat lubang tanam. 

Berbeda dengan petani kita dimana bedengan ditanami dua baris tanaman, di Korea umumnya hanya satu baris saja. Konsep ini memiliki kelebihan dan memberi pengaruh signifikan tehadap pertumbuhan tanaman, antara lain:

  • Tanaman menjadi lebih mudah untuk berkembang
  • Rendahnya persaingan antartanaman dalam memperoleh unsur hara
  • Fotosintesis jauh lebih baik, sehingga produktivitas buah meningkat
  • Aliran udara lebih lancar
  • Perawatan tanaman lebih mudah
  • Kelembapan terjaga sehingga menekan munculnya penyakit
  • Penyebaran hama dan penyakit relatif lebih terkontrol

Jadi, pilih mana??

Benih dilepas dari tray dan dibariskan sesuai lubang tanam.

Gambar 5. Benih dilepas dari tray dan dibariskan sesuai lubang tanam.

 

Benih cabai ditanam.

Gambar 6. Benih cabai ditanam.

 

Petani sedang memasang pipa ajir.

Gambar 7. Petani sedang memasang tiang ajir dari pipa besi. Satu tiang untuk mendukung tiga tanaman.

 

Bentangan sepasang tali befungsi sebagai "ajir" tanaman cabai muda.

Gambar 8. Bentangan sepasang tali befungsi sebagai “ajir” tanaman cabai.

Penyempotan rutin insektisida, fungisida, dan pupuk daun.

Gamba 9. Penyempotan rutin insektisida, fungisida, dan pupuk daun. Penggunaan sarung tangan dan masker dianggap “wajib”.

Petani tengah mengikat pohon cabai. Usia tanaman sekitar 1 bulan.

Gambar 10. Petani tengah mengikat pohon cabai. Usia tanaman sekitar 1 bulan.

Tanaman cabai sudah tumbuh dewasa dan subur.

Gambar 11. Tanaman cabai sudah tumbuh dewasa dan subur. Terlihat buah-buah cabai diselimuti noda-noda putih, sepertinya “jejak” fungisida kimia.

Usia tanaman cabai sekitar 3 bulan lebih, menjelang panen.

Gambar 12. Usia tanaman cabai sekitar 3 bulan lebih, menjelang panen.

Panen cabai yang sukses, tanpa kendala berarti.

Gambar 13. Panen cabai yang sukses, tanpa kendala berarti.

Source: http://blog.daum.net/n209e/13399411

Bagaimana, menarik sekali bukan? Ya, mudah-mudahan dengan sajian kali ini bisa memberikan inspirasi dan motivasi bagi para petani cabai di negeri kita. Wassalam…

Incoming search terms:

Bookmark this on Google Bookmarks
Bookmark this on Delicious
Share on LinkedIn
Bookmark this on Yahoo Bookmark

4 komentar untuk Yuk, Belajar Bertani Cabai dari Petani Korea!

  • Anonymous says:

    bagus mas, teknik pemasangan ajir dan alat pemasang mulsa menjadi inspirasi kedepan. akan saya coba. trims. maju terus pertanianindonesia

  • Anonymous says:

    mantap mas, cara pemasangan ajir dan alat pemasang mulsanya bikin inspirasi kedepan akan saya coba

  • Anonymous says:

    mantap sekali bang….padahal tanahnya terlihat tanah lempung putih ya..sedangkan kita di indonesia rata rata tanahnya humus hitam kecoklatan.tapi kenapa hasil pertanian indonesia belum bisa menandingi inport dari sana ya….hmmmm sepertinya saya harus mencoba alat pelubang sekaligus penugal itu bang. praktis.

    • taniorganik says:

      betul bang..
      sebetulnya kita syukuri sj pemberian Tuhan. di mana pun kita berpijak, PERTANIAN KITA HARUS MAJU
      apa pun kondisi alam dan jenis tanah yg dikasih, kita harus bisa usahain agar menjadi subur, toh kita diberi akal n fikiran. beruntung Indonesia dikasih tanah dan iklim yg bagus, tinggal kita berdayakan dan tingkatkan dg baik.

Comment

CAPTCHA
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

generic viagra canada dui dwi lawyer