Trik Mengatasi Kresek Daun (Downy Mildew) pada Tanaman Mentimun di Sariwangi, Tasikmalaya

February 10, 2013 Hama & Penyakit  Komentar

Trik Mengatasi Embun Embun Bulu (Downy Mildew) Pada Mentimun di Sariwangi, Tasikmalaya 004

Bagi petani mentimun, kresek daun atau embun bulu mungkin termasuk penyakit yang paling menyeramkan, terutama di musim penghujan. Hal ini karena serangannya sangat cepat, dalam hitungan 2-3 hari tanaman bisa tumpur ludes, dan bisa menggagalkan panen dalam volume yang besar.

Seperti kita maklumi, saat ini curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia sangat tinggi, begitu pun di wilayah kami Tasikmalaya, Jabar. Banyak petani mengeluh karena gagal panen. Dari pantauan kami di seputaran Leuwisari, Singaparna, dan Cisayong, para petani mentimun yang gagal panen nyaris 70%!

Penampakan gejala Downy mildew (embun bulu, bulai, trotol, kresek) pada daun mentimun

Gambar 1. Penampakan/gejala Downy mildew (embun bulu, bulai, trotol, kresek) pada daun mentimun

Para petani di beberapa daerah mengenal penyakit ini dengan sebutan trotol, mungkin karena penampakan daun yang terserang tersebut dipenuhi bercak totol-totol hitam kecoklatan. Disebut kresek mungkin karena daun menimbulkan bunyi “kresek, kresek” saat diremas. Sedangkan masyarakat Internasional menyebutnya dengan downy mildew.

Embun bulu termasuk penyakit daun, disebabkan oleh organisme cendawan parasit. Ia menyebar dari satu tanaman ke tanaman dalam bentuk spora melalui udara, air atau perantara lainnya. Embun bulu adalah penyakit cuaca basah, karena sering menginfeksi daun-daun yang basah berkepanjangan. Umumnya menyerang tanaman-tanaman merambat, seperti mentimun, anggur, kacang-kacangan, meskipun juga banyak komoditas lain termasuk selada, bawang, wortel, tembakau, bayam, keluarga kubis (brassicas), dll.

Gejala

Pada tanaman yang terserang, akan tampak jamur berbulu halus (Plasmopara viticola), muncul sebagai bercak putih kuning pada permukaan atas daun yang lebih tua. Pada permukaan bawah, daun ditutupi dengan putih keabu-abuan, seperti kapas. Akan nampak jelas terlihat setelah hujan atau terkena air dan seperti hilang segera setelah cuaca panas. Jika penyakit terus berlangsung, daun akhirnya berubah coklat dan renyah, kemudian rontok (meskipun tanaman memiliki cukup air).

Pada kesempatan ini, kami akan menunjukkan tanaman mentimun kepunyaan Bp. Jajang, di Sariwangi, Tasikmalaya. Selain bertani, beliau ini berprofesi sebagai pengajar di sebuah sekolah di sana. Seperti kita lihat, tanaman mentimun pak guru Jajang ini nampak sehat. Pertumbuhan subur, ditandai dengan daun yang montok, lebar, dan tebal. Bunga atau bakal buah bertebaran di mana-mana.  Tinggi tanaman mencapai 2 meter, bahkan sepertinya masih terus merangkak naik. 

Trik Mengatasi Embun Embun Bulu (Downy Mildew) Pada Mentimun di Sariwangi, Tasikmalaya 003

Gambar 2. Tanaman mentimun pak Jajang, Sariwangi, Tasikmalaya. Pertumbuhan subur, daun montok, lebar, dan hijau kebiruan. Bunga dan bakal buah bertebaran. Perlakuannya adalah dengan menyemprotkan Pupuk Organik Cair (POC) BMW dan pestisida organik AntiLAT.

Ada memang sedikit bercak yang merupakan gejala embun bulu, namun dalam prosentase yang kecil sekali dari populasi yang ada. Bila dibandingkan dengan petani-petani sebelah yang sama-sama menanam mentimun, tanaman pak Jajang ini jauh lebih beruntung. Ketika para petani lain gigit jari karena gagal panen, pak Jajang ini malah panen  setiap 1-2 hari sekali. Selamat, pak guru!

Kembali ke bahasan embun bulu, cendawan ini tumbuh subur di cuaca lembab, biasanya di musim hujan, di mana kelembapan mendekati 100%. Penyakit ini mampu bertahan melewati musim pada sisa-sisa tanaman dan tanah. Spora jamur dapat dibawa oleh serangga, angin, hujan, atau peralatan pak petani.

Trik Mengatasi Embun Embun Bulu (Downy Mildew) Pada Mentimun di Sariwangi, Tasikmalaya 001

Gambar 3. Pak Jajang tengah berdiskusi dengan kami seputar pentingnya penerapan pertanian organik untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Sebetulnya tidak ada perlakuan khusus yang dilakukan Pak Jajang untuk menjaga tanamannya dari serangan kresek di cuaca hujan yang ekstrim ini, beliau tidak menggunakan fungisida kimia untuk tanaman mentimunnya.  Yang dilakukan hanyalah mengocor dan menyemprot tanaman dengan POC Bumi Makmur Walatra (BMW) dan menyemprotkan pestisida organik AntiLAT yang juga keluaran Bumi Makmur Walatra. POC BMW selain mengandung nutrisi dan hormon pertumbuhan, di dalamnya juga dilengkapi dengan bahan FUNGISIDA HAYATI, meski memang konsentrasinya tidak sekuat dalam produk NoPATEK, produk fungisida organik dari Bumi Makmur Walatra (BMW). Walaupun begitu, dengan pertumbuhan tanaman yang sehat nampaknya menghasilkan daya tahan yang lebih baik dari serangan embun bulu.

Trik Mengatasi Embun Embun Bulu (Downy Mildew) Pada Mentimun di Sariwangi, Tasikmalaya 002

Gambar 4. Seorang kakek yang ikut berkunjung bersama kami berdecak kagum melihat pertumbuhan tanaman mentimun milik Pak Jajang. Kakek pun bertutur ingin menggunakan produk kami untuk tanaman padinya.

Pengendalian:

Cara terbaik untuk mencegah penyakit bulai atau embun bulu tentunya adalah dengan menghindari kondisi lingkungan yang mendukung tumbuh suburnya penyakit tersebut. Karena sifat cendawan umumnya menyukai kondisi lembap, maka usaha yang logis untuk menekannya adalah dengan menciptakan lingkungan yang tidak lembap di lahan kita sebisa mungkin, di samping melakukan terapi melalui produk fungisida.

Berikut ini adalah tip-tip yang bisa membantu menekan tumbuhnya embun bulu pada mentimun (dan tanaman lainnya):

  • Pangkas bagian-bagian tanaman yang terlalu rimbun, buang juga rumput/gulma di lahan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sirkulasi udara sehingga lahan tidak terlalu lembap.
  • Jika penyiraman diperlukan, usakan dilakukan di pagi hari sehingga bisa cepat mengering di siang hari. Jangan sekali-kali menyiram di sore atau malam hari, hal tersebut akan menciptakan lingkungan yang basah dan lembap. Pastikan juga penyiraman secukupnya saja, tidak sampai berlebihan.
  • Jangan sekali-kali melakukan penyemprotan di malam hari, hal ini juga akan menciptakan lingkungan yang lembab dan daun basah sepanjang malam.
  • Usahakan daun atau bagian tanaman bagian bawah tidak menyentuh tanah sehingga tidak mudah terinfeksi.
  • Jika memungkinkan, buang dan bakar tanaman yang terinfeksi serius.
  • Membuka pintu dan ventilasi, ketika kondisi memungkinkan, mendorong pergerakan udara.
  • Untuk menghindari infeksi dari spora yang ‘beristirahat’ di dalam tanah, praktek rotasi jenis tanaman dapat membantu.
  • Yang utama dari semua, pastikan Anda memilih benih atau varietas yang lebih tahan hama dan penyakit.

 

Bookmark this on Google Bookmarks
Bookmark this on Delicious
Share on LinkedIn
Bookmark this on Yahoo Bookmark

Comment

CAPTCHA
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>