Tidak Dibutuhkan Pestisida Kimia untuk Mengatasi Hama Merah pada Tanaman Padi (Pengalaman Petani Padi Cubeureum, Tasikmalaya)

February 26, 2013 Hama & Penyakit  4 komentar

Tanaman padi bebas hama merah di cibeureum tasikmalaya 002

Hama merah atau lebih tepatnya penyakit merah bukan hal yang asing bagi para petani padi. Penyakit ini betul-betul sangat diwaspadai, karena memang dampaknya tidak bisa ditoleransi. Kita tahu bahwa ada banyak jenis hama yang umum menyerang padi, di antaranya hama putih, keong mas, ulat, belalang dan sebagainya, namun hama-hama tersebut relatif lebih mudah diatasi. Namun untuk jenis hama yang satu ini sangat sulit. Para petani di berbagai wilayah sudah berusaha dengan berbagai cara untuk menanganinya, tetapi tetap saja keteter.

Karakteristik dari serangan penyakit merah adalah berpindah-pindah dari satu areal lahan padi ke lahan padi lainnya, sehingga seringkali tidak serempak, dan itu bisa terjadi setiap tahun pada musim tanam.

Berikut ini kami sisipkan kesaksian Bapak Engkos di Cibeureum, Tasikmalaya, Jawa Barat. Beliau bersyukur bahwa tanaman padinya kali ini tidak terserang penyakit merah, padahal tanaman padi di sekitarnya (milik “tetangga”) banyak yang terserang, bahkan kami taksir ada yang mencapai 50%! Tidak ada rumus khusus yang ditempuh pak Engkos untuk mengamankan padinya dari penyakit merah, beliau hanya menyemprotkan POC BMW sebanyak dua kali ke tanaman padinya.  

Tanaman padi bebas hama merah di cibeureum tasikmalaya 002

Gambar 1. Tanaman padi Pak Engkos terhindar dari penyakit merah di Cibeureum, Tasikmalaya

POC (Pupuk Organik Cair) BMW sebetulnya memang bukan produk fungisida, melainkan pupuk organik untuk kesuburan tanaman. Namun karena di dalam produk tersebut kami sertakan beragam mikroorganisme menguntungkan (jamur dan bakteri), di mana beberapa di antaranya memiliki karakteristik menghalau (memerangi) beberapa jenis patogen penyebab penyakit, itulah mungkin yang membuat tanaman Pak Engkos luput dari serangan hama merah.  

Walaupun begitu, jika tanaman padi Anda benar-benar sudah terserang hama merah, kami rekomendasikan untuk mengendalikannya dengan produk fungisida organik kami yaitu NoPATEK

Berdasarkan pengalaman petani, hama merah biasanya mulai terlihat pada usia tanaman satu bulan, atau bahkan dua minggu. Ketika satu tanaman padi daunnya tampak kemerahan, banyak petani terpaksa melakukan pencabutan tanaman bersama akarnya, tujuannya agar penyakit tidak menyebar ke tanaman padi lainnya. Sayangnya, meskipun sudah dicabut, penyebaran penyakit tetap saja tidak terbendung. Para petani sering kewalahan dibuatnya, banyak yang pasrah karena tidak tahu harus berbuat apa. Penyemprotan dengan berbagai obat anti hama masih juga tidak membuahkan hasil. Apa yang salah..?

Gejala penyakit merah tampak menimbulkan warna coklat kemerahan yang menyebar dari akar hingga batang padi. Jelas ini menyebabkan tanaman terganggu produktivitasnya. Meski tidak sampai menyebabkan gagal panen secara total, namun kuantitas dan kualitas beras yang dihasilkan sangat rendah. Hasil produksi/panen bisa menurun drastis, bisa mencapai 50-70%. Untuk menghindari kerugian yang lebih parah, tidak jarang para petani memanen padi mereka lebih awal.

Produktivitas meningkat 2x lipat setelah penyemprotan dengan Pupuk Organik Cair (POC) BMW

Gambar 2. Produktivitas meningkat 2x lipat dari sebelumnya setelah penyemprotan dengan Pupuk Organik Cair (POC) BMW. Menurut Pak Engkos, kurang lebih satu minggu lagi tanaman padinya akan dipanen. Selamat ya, pak… :)

 

Disaat tanaman padi tetangga hancur 50% terserang hama merah, padi pak Engkos alhamdulillah selamat. Penyemprotan dengan POC BMW dapat menjaga tanaman dari serangan hama merah.

Gambar 3. Disaat tanaman padi tetangga hancur 50% terserang penyakit merah, padi pak Engkos alhamdulillah selamat. Selain tumbuh lebih subur, penyemprotan dengan POC BMW dapat menjaga tanaman dari serangan penyakit merah.

 

Hama merah dapat menggagalkan panen, oleh karena itu penjagaan tanaman dari hama ini harus dilakukan intensif sejak mulai tanam.

Gambar 4. Penyakit merah dapat menggagalkan panen, oleh karena itu penjagaan tanaman harus dilakukan intensif sejak usia muda.

Apa Sebenarnya Penyebab Hama Merah pada Padi ?

Ada banyak persepsi yang berkembang di kalangan petani (dan bahkan ilmuwan) mengenai hama/penyakit ini. Sebagian berpendapat bahwa penyakit merah disebabkan oleh cedawan/jamur, ada juga yang menyebutkan karena bakteri, virus, atau bahkan ada yang menyebutkan akibat serangan tungro. Mana yang betul?

Mungkin, karena gejalanya yang hampir mirip terutama munculnya bercak-bercak coklat kemerahan pada batang dan daun, atau daun seperti terbakar, beberapa serangan penyakit  pada padi dipukul rata dipanggil “hama merah” oleh petani. Padahal sebenarnya penyakit-penyakit tersebut berbeda jenis dan karakteristiknya satu sama lain. Beberapa petani menyebut penyakit merah adalah “kresek/hawar daun”. Ada juga yang menyebutnya “blast”. Dari istilah-istilah ini saja, sudah jelas bahwa jenis penyakit tersebut berbeda.

Sekarang mari kita pelajari apa perbedaan jenis-jenis penyakit tanaman padi yang diduga sebagai hama merah oleh petani.

Blast

Blast pada padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae. Sebagian besar varietas padi yang rentan terhadap penyakit dapat hancur oleh serangan blast, mulai dari daun, batang, leher, malai sampai bulir.

Gejala serangan blast pada daun tanaman padi

Gambar 5. Gejala serangan blast pada daun padi

Gejala blast yang umum terjadi pada daun biasanya berupa lesi atau luka berbentuk berlian, dengan pusat abu-abu atau putih, dengan bagian tepi coklat atau coklat kemerahan. Meskipun begitu, baik bentuk, warna, dan ukuran dapat bervariasi bergantung pada ketahanan varietas, umur tanaman, dan usia lesi. Blast daun sering menyebabkan kematian lengkap tanaman terutama tanaman muda.

Gejala serangan blast pada leher padi

Gambar 6. Gejala serangan blast pada leher padi

Bahasan lebih lengkap tentang penyakit Blast pada padi dan teknik penanganannya, silakan membaca artikel kami pada link berikut >>

Bercak Coklat – Bipolaris Oryzae

Serangan lainnya yang juga sering ditafsirkan oleh petani sebagai penyakit merah pada padi adalah Bercak Coklat atau Bipolaris Oryzae. Penyebabnya adalah jamur Cochliobolus miyabeanus, anggota dari jamur kantung. Merupakan kelompok patogen yang menyerang anggota keluarga rumput, termasuk spesies sereal penting seperti padi, gandum, jagung, barley, dan sejenisnya.

Serangan Brown spot - Bipolaris oryzae pada padi.

Gambar 7. Serangan Brown spot – Bipolaris oryzae pada padi.

Jamur ini menghasilkan spora, yang disebut konidia, yang dapat dengan mudah tersebar oleh angin dan tidak perlu serangga atau binatang lain untuk penyebaran mereka. Spora ini aseksual, sehingga mereka dapat mewabah dan menyerang tanaman dengan cepat. Serangan ini dapat mengakibatkan hasil panen melorot drastis.

Serangan Brown spot - Bipolaris oryzae dapat menyebar dengan cepat.

Gambar 8. Serangan Brown spot – Bipolaris oryzae dapat menyebar dengan cepat.

Bibit atau spora patogen ini biasanya dibawa benih padi, atau terinfeksi saat benih berkecambah, yang selanjutnya tumbuh berkembang seiring berkembangnya tanaman. Gejala penyakit ini pertama kali terlihat sebagai bintik atau bercak kecoklatan pada daun tanaman. Bintik-bintik selanjutnya membesar, menjadi abu-abu di pusat dan coklat di bagian tepi.

Bahasan lebih lengkap tentang penyakit Brown spot – Bipolaris oryzae pada padi dan teknik pengendaliannya, silakan membaca artikel kami pada link berikut >>

Hawar Daun/Kresek 

Serangan Hawar daun bakteri (HDB), atau Bacterial leaf blight (BLB), atau lazim dipanggil penyakit “kresek”, disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae. Ini adalah penyakit bakteri yang sangat destruktif. Tanaman padi menjadi kuning, dengan luka/lesi bergelombang. Muncul di ujung daun dan tepi daun, bergerak ke bawah melalui pembuluh dan biasanya dengan cara bergelombang. Dalam kasus yang parah, daun akan menggulung, abu-abu, dan tanaman mati. Pada tanaman dewasa, malai menjadi kering dan biji tak berkualitas. Infeksi berat sering terjadi pada kondisi di mana kelembaban dan suhu hangat.

Bacterial Leaf Blight (BLB) pada padi 002

Gambar 9. Gejala Bacterial Leaf Blight (BLB) pada daun padi.

Gejala spesifik:

  1. Pada bibit di persemaian, gejala diawali dengan spot melingkar, bintik-bintik kuning di tepi daun, kemudian membesar, menyatu dan menyebabkan pengeringan daun.
  2. Gejala “kresek” terlihat pada usia 1-2 minggu setelah tanam. Bakteri masuk melalui luka potong di ujung daun, menjadi sistemik dan menyebabkan kematian tanaman muda keseluruhan.
  3. Pada tanaman dewasa, lesi muncul biasanya di tepi daun. Lesi membesar baik panjang maupun lebarnya, dengan marjin bergelombang dan daun berubah menjadi kuning dalam beberapa hari, mencakup seluruh daun.
  4. Jika penyakit terus berlangsung, lesi menutupi seluruh helaian daun yang dapat berubah putih. Lesi juga sering terlihat pada selubung daun.
  5. Jika ujung potongan daun dicelupkan ke dalam air, cairan bakteri akan membuat keruh air.
  6. Bulir yang terkena dampak dapat memiliki bintik-bintik berwarna.
Bacterial Leaf Blight (BLB) pada padi 001

Gambar 10. Serangan Bacterial Leaf Blight (BLB) pada padi.

Pada musim hujan,  penyakit hawar daun bakteri biasanya berkembang lebih cepat. Kerugian hasil panen dapat mencapai 60-70%.

Bacterial Leaf Blight (BLB) pada padi 003

Gambar 11. Serangan hawar daun yang menghancurkan.

Bahasan lebih lengkap tentang penyakit Hawar Daun/Kresek pada padi dan teknik penanganannya, silakan baca artikel kami yang lainnya pada link berikut.

Hawar Selubung: Rhizoctonia Solani

Ini adalah penyakit jamur, dapat menyebar secara luas dan muncul di akhir musim.  Gejala pertama muncul pada daun yang lebih rendah di dekat permukaan air. Luka/lesi berwarna abu-abu kehijauan, lonjong atau elips. Lesi ini memiliki tepi coklat gelap, sedangkan wilayah tengah keabu-abuan.

Gejala Hawar Selubung: Rhizoctonia Solani pada tanaman padi.

Gambar 12. Gejala Hawar Selubung: Rhizoctonia Solani pada tanaman padi.

Penyakit ini berkembang lebih parah pada kelembaban tinggi dan suhu hangat. Cocok sekali untuk iklim di Indonesia.

Rhizoctonia Solani dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Gambar 13. Rhizoctonia Solani dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Gejala serupa juga muncul di dedaunan, dan tanaman yang terinfeksi akan menghasilkan biji yang tak layak.

Tanaman yang terinfeksi menghasilkan biji yang berkualitas buruk.

Gambar 14. Tanaman yang terinfeksi menghasilkan biji yang berkualitas buruk.

Bahasan lebih lengkap tentang Rhizoctonia Solani pada padi dan teknik penanganannya, dapat dibaca pada artikel kami yang lainnya pada link berikut.

Sheath rot: Sarocladium Oryzae (Sawada)

Penyakit jamur ini mempengaruhi tanaman dalam tahap matang. Penyakit muncul pada selubung daun teratas. Bintik-bintik lonjong muncul secara teratur, dengan abu-abu di pusat dan coklat di tepi. Infeksi yang parah menyebabkan malai terkulai dan miskin bulir. Hasil panen sering anjlok sampai 75 persen.

Gejala serangan Sarocladium oryzae (Sawada) pada padi 001

Gambar 15. Sarocladium oryzae (Sawada) sering menyerang selubung daun teratas

Kelembaban yang tinggi dan suhu antara 17-20 derajat Celsius selama waktu berbunga sangat cocok untuk berjangkitnya penyakit ini.

Gejala serangan Sarocladium oryzae (Sawada) pada padi

Gambar 16. Serangan Sarocladium oryzae (Sawada) menyebabkan hasil panen sangat rendah.

Itulah beberapa penyakit tanaman padi yang umum diketahui. Beberapa di antaranya memang memiliki penampakan/gejala yang hampir mirip. Oleh karena itu para petani seringkali keliru dalam membedakannya, atau bahkan tidak faham sama sekali tentang macam-macam penyakit padi yang telah disebutkan. Dari ilustrasi-ilustrasi di atas, kiranya Anda sekarang sudah memiliki gambaran apa yang dimaksud penyakit “merah” pada padi.

Cara Pengedalian Penyakit Merah

  • Gunakan varietas padi yang berkualitas dan tahan penyakit
  • Tidak berlebihan dalam pemupukan yang berkadar N (seperti Urea, ZA, NPK, Phonska atau pupuk lainnya yang berkadar N)
  • Pengaturan air dengan baik, tidak menciptakan kondisi terlalu lembap pada lahan.
  • Gunakan jarak tanam lebih lebar.
  • Gunakan produk fungisida alami/organik.
  • Hindari penggunaan fungisida kimia yang akan membuat ketergantungan dan menimbulkan masalah baru jangka panjang.

Jika tanaman padi Anda telah menunjukkan terserang, Anda bisa mencoba mengendalikannya dengan fungisida alami NoPATEK dari Bumi Makmur Walatra (BMW). Produk ini merupakan fungisida hayati yang aman. Insya Allah cukup ampuh dalam mengatasi berbagai serangan penyakit tanaman yang disebabkan jamur dan bakteri, termasuk penyakit merah pada padi. Silakan mencoba dan buktikan sendiri. Salam organik!

Incoming search terms:

Bookmark this on Google Bookmarks
Bookmark this on Delicious
Share on LinkedIn
Bookmark this on Yahoo Bookmark

4 komentar untuk Tidak Dibutuhkan Pestisida Kimia untuk Mengatasi Hama Merah pada Tanaman Padi (Pengalaman Petani Padi Cubeureum, Tasikmalaya)

  • daerah karawang buat beli obat poc BMW di mna tmpat nya??

  • Anonymous says:

    mantafff bro

    • taniorganik says:

      terimakasih mas…
      mari terjun nyata di pertanian organik :)

      • riseu isnawati says:

        Assalam,,,bpk saya mahasiswa bisa magang di tempat bapak tidak sebanyak 2 orang?

Comment

CAPTCHA
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>