Lalat Buah (Bactrocera, sp)

February 16, 2013 Hama & Penyakit  Satu komentar

Seekor lalat buah betina sedang meletakkan telurnya ke dalam buah jambu air dengan menusukkan ovipositor - alat peletak telur

Lalat buah, atau bahasa latinnya Bactrocera, sp, merupakan salah satu hama yang sangat ganas menyerang tanaman hortikultura, kehadirannya sering menimbulkan kerugian besar bagi para petani, khususnya petani buah dan sayuran. Sepertinya apalah guna tanaman sehat dan berbuah lebat jika akhirnya diserang lalat buah. Karena jika sudah terserang, buah-buah yang lebat dan siap dipetik tersebut akan membusuk dan gugur dalam sekejap. Hal ini sangat menyedihkan bagi para petani karena hasil panen yang dinanti-nanti bisa sirna begitu saja. Tidak heran jika lalat buah termasuk hama yang paling ditakutkan oleh para petani setelah antraknosa (patek).

Seekor lalat buah betina sedang meletakkan telurnya ke dalam buah jambu air dengan menusukkan ovipositor - alat peletak telur

Gambar 1. Seekor lalat buah betina sedang meletakkan telurnya ke dalam buah jambu air dengan menusukkan ovipositor – alat peletak telur

Lalat buah termasuk Ordo Diptera. Famili Tephtritidae, yang terdiri dari 4000 spesies, terbagi ke dalam 500 genera. Famili ini merupakan famili terbesar dari ordo Diptera dan merupakan salah satu famili yang secara ekonomi sangat merugikan. Di alam ada banyak spesies lalat buah. Beberapa spesies memiliki efek negatif, beberapa yang lainnya positif. Salah satu spesies yang dikenal sangat merusak buah adalah Bactrocera sp. Lalat buah menyerang dengan menyuntikkan telur mereka ke dalam buah. Ini akan menyebabkan buah menjadi busuk dan rontok sebelum dapat dipetik.

DILARANG MENYALIN

Siklus hidup lalat buah sekitar 20- 28 hari, dan selama hidupnya kawin dan bertelur dapat menghasilkan 1200 butir! Kehidupan dan perkembangan lalat buah dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya suhu, kelembaban dan ketersediaan inang. Ketiga faktor tersebut cukup terpenuhi di wilayah tropis seperti Indonesia sehingga sangat mendukung perkembangan populasi lalat buah. Di daerah tropis lalat buah hanya mendapat gangguan iklim lebih kecil dibandingkan di wilayah lain. misalnya daerah sedang dan dingin. Selain itu, ketersediaan makanan di wilayah tropis lebih besar oleh karena itu serangga termasuk lalat buah selalu mendapat pakan yang cukup. Di musim hujan, populasi lalat buah mencapai puncaknya.

Kingdom:         Animalia

Phylum:           Arthropoda

Class:               Insecta

Order:              Diptera

Section:                        Schizophora

Subsection:      Acalyptratae

Superfamily:    Tephritoidea

Family:                        Tephritidae

Secara fisik, lalat buah dewasa berukuran sekitar 1-6 mm, berkepala besar, berleher sangat kecil. Warnanya bervariasi mulai dari kuning cerah, orange, hitam, coklat, atau kombinasinya. Disebut tephritidae (berarti bor) karena terdapat ovipositor pada lalat betina yang berfungsi untuk memasukkan telur ke dalam buah.

Tanaman Inang

Sasaran utama dari lalat buah adalah tanaman buah, mulai dari cabai, tomat, pare, mentimun, terong, melon, semangka, nangka, jeruk, apel, belimbing, mangga, lengkeng, pepaya, pisang, jambu air, jambu biji, dan banyak lagi.

Siklus Hidup

Lalat buah mempunyai empat stadium  yaitu telur, larva, pupa dan imago (serangga dewasa). Seperti yang telah disebutkan, lalat buah betina meletakkan telur ke dalam buah dengan ovipositornya (alat peletak telur). Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, diletakkan berkelompok 2 – 15 butir dan dalam waktu ± 2 hari.  Telur yang diletakkan di dalam buah akan menetas menjadi 1arva. Seekor lalat betina mampu menghasilkan telur 1200 – 1500 butir.

Larva berwarna putih keruh atau putih kekuning-kuningan, berbentuk bulat panjang dengan salah satu ujungnya runcing. Larva terdiri atas tiga instar, dengan lama stadium larva 6 – 9 hari.

Larva setelah berkembang maksimum akan membuat lubang keluar untuk meloncat dan melenting dari buah dan masuk ke dalam tanah untuk menjadi pupa. Pupa berwarna coklat, dengan bentuk oval, panjang ± 5 mm dan lama  stadium pupa 4 – 10 hari.

Imago rata-rata berukuran panjang  ± 7 mm, lebar ± 3 mm dengan warna toraks dan abdomen antar spesies lalat buah bervariasi misalnya oranye, merah kecoklatan, coklat,  atau hitam.  Demikian pula sayapnya transparan dengan  bercak-bercak pita (band) yang bervariasi merupakan ciri  masing-masing spesies lalat buah.  Pada lalat betina ujung abdomennya lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur,  sedangkan abdomen lalat jantan lebih bulat.  Secara keseluruhan daur hidup lalat buah berkisar ± 25 hari.

Gejala Serangan

Lalat buah yang menyerang sebetulnya adalah lalat betina. Lalat tersebut menyerang dengan menusukkan alat peletak telurnya (ovipositor) ke dalam buah. Tujuannya untuk meletakkan telur-telur mereka di dalam buah yang selanjutnya telur-telur tersebut akan menetas menjadi larva dan berkembang. Oleh karena itu, gejala awal yang ditunjukkan serangan lalat buah adalah adanya noda/titik bekas tusukan pada permukaan kulit buah. Selanjutnya telur-telur akan menetas di dalam buah dan menjadi larva. Gangguan yang dilakukan oleh larva-larva inilah yang akan menimbulkan noda-noda di kulit buah dan berkembang menjadi bercak coklat di sekitarnya.

Gejala serangan lalat buah menimbulkan titik-titik bekas tusukan pada kulit buah yang akan berkembang menjadi bercak-bercak coklat lebih besar

Gambar 2. Gejala serangan lalat buah menimbulkan titik-titik bekas tusukan pada kulit buah yang akan berkembang menjadi bercak-bercak coklat lebih besar

 Saat buah yang terserang kita belah, akan telihat belatung atau larva lalat buah. Larva akan merusak daging buah sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum tua/masak. Buah yang gugur ini akan menjadi biang serangan generasi berikutnya jika tidak kita musnahkan dengan segera.

Buah cabe yang membusuk akibat serangan lalat buah

Gambar 3. Buah cabe yang membusuk akibat serangan lalat buah. Buah yang sudah terserang seperti ini akan jatuh dari pohon.

Bila buah yang terserang tersebut kita bedah, biasanya akan ditemukan larva lalat buah.

Larva lalat buah ditemukan di dalam buah cabe yang terserang

Gambar 4. Larva lalat buah ditemukan di dalam buah cabe yang terserang

Pengendalian

Sejauh ini, lalat buah termasuk hama yang sulit dikendalikan. Beberapa teknik pengendalian. baik secara tradisioanal maupun modern telah banyak diaplikasikan namun hasilnya belumlah optimal. Walaupun demikian, usaha-usaha pengendalian tetap harus kita upayakan sebisa mungkin agar dampak dari serangan tidak terlalu merugikan.

Beberapa cara pengendalian hama lalat buah yang bisa diupayakan di antaranya:

Penetapan Peraturan Pemerintah

Hal pertama adalah melalui penetapan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, yakni peraturan karantina antar area/wilayah/negara untuk tidak memasukkan buah yang terserang dari daerah endemis. Sebagai contoh, pemerintah melarang impor buah-buahan dan sayuran dari negara di mana merupakan daerah endemis lalat buah.

Secara Kultur Teknis

  • Pemeliharaan Tanah

Memelihara tanaman dengan baik di antaranya melakukan mengolah dan merawat tanah secara berkala. Pencacahan tanah di bawah tajuk pohon dapat menyebabkan pupa lalat buah yang terdapat di dalam tanah terkena sinar matahari dan akhirnya mati.

  • Sanitasi yang Baik

Kebersihan kebun menentukan tingkat serangan lalat buah. Tujuan dari sanitasi (memberishkan) kebun adalah memutus siklus perkembangan lalat buah. Lantai kebun harus terbebas dari buah-buah yang terserang lalat buah yang jatuh atau yang masih di pohon. Buah yang berisi telur dan larva lalat buah dikumpulkan kemudian dimusnahkan dengan dibakar atau dibenamkan ke dalam tanah. Buah-buah yang gugur di bawah pohon berpeluang dijadikan tempat bertelur lalat buah.

Semak-semak dan gulma juga dapat digunakan lalat buah sebagai inang alternatif ketika tidak musim buah. Sanitasi kebun akan efektif jika dilakukan oleh seluruh petani secara serempak.

  • Pembungkusan Buah

Pembungkusan buah saat masih muda dapat membantu menangkal serangan hama lalat buah. Petani bisa menggunakan kertas, kertas karbon, plastik hitam, daun pisang, daun jati, atau kain untuk membungkus buah yang tidak terlalu besar seperti belimbing dan jambu. Untuk buah yang berukuran besar, seperti nangka, petani biasa menggunakan anyaman daun kelapa, karung plastik, atau kertas semen. Setiap jenis pembungkus tentu memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kapan buah harus dibungkus bergantung dari jenis buahnya. Misalnya, buah belimbing harus sedini mungkin dibungkus. Buah mangga dibungkus sebelum buah memasuki stadium pemasakan. Lalat buah tertarik pada warna kuning dan aroma buah yang masak atau aroma amonia yang dikeluarkan oleh beberapa jenis bunga dan buah, jadi membungkus buah sedini mungkin bisa efektif mengurangi serangan lalat buah.

Membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah cukup efektif untuk melindungi komoditas buah yang lebih besar

Gambar 5. Membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah cukup efektif untuk melindungi komoditas buah yang lebih besar

Upaya membungkus buah untuk menghindari serangan lalat buah akan semakin efektif jika dibarengi dengan pengasapan (dijelaskan di bawah).

Di antara keuntungan menggunakan pembungkus untuk menghindari serangan lalat buah adalah buah tetap mulus dan tidak terkontaminasi pestisida. Sayangnya pembungkusan buah kurang praktis jika kebun buah sangat luas dan pohon buah tinggi. Cukup praktis dan efisien jika di lokasi kebun tersedia tenaga kerja yang cukup dan murah. Metode pembukusan juga menjadi hal yang sulit diterapkan pada tanaman buah hortikultura dan sayuran seperti tomat dan cabai. Kesulitan terutama karena terlalu banyak bungkus plastik dan tenaga kerja yang diperlukan untuk membungkus. Jadi, petani mungkin harus mencari solusi lain daripada solusi pembungkusan.

Pengendalian Secara Mekanis

  • Pengasapan

Pengasapan di sekitar pohon dengan membakar serasah/jerami sampai menjadi bara yang cukup besar bisa pula mengusir lalat. Pengasapan dilakukan 3 – 4 hari sekali dimulai pada saat pembentukan buah dan diakhiri 1 –2 minggu sebelum panen

Tujuan pengasapan adalah mengusir lalat buah dari kebun. Pengasapan dilakukan dengan membakar serasah atau jerami sampai menjadi bara yang cukup besar. Kemudian bara dimatikan dan di atas bara ditaruh dahan kayu yang masih lembab. Pengasapan di sekitar pohon dapat mengusi lalat buah dan efektif selama tiga hari. Pengasapan selama 13 jam bisa membunuh lalat buah yang tidak sempat menghindar.

Namun, cara ini juga menjadi kurang efisien jika diterapkan di kebun yang luas. Cara ini hanya efisien jika diterapkan di pohon-pohon milik perseorangan yang jumlahnya terbatas atau tidak terlampau banyak. Kelemahan lain pada pengendalian pengasapan adalah sulitnya diterapkan pada komoditas sayuran.

  • Penggunaan Tanaman Perangkap

Penelitian mengenai preferensi lalat buah terhadap tanaman buah dan sayuran, ternyata yang paling disukai oleh lalat buah berturut-turut sebagai berikut: jambu air, belimbing, mangga, dan jambu biji. Tanaman yang lebih rendah dapat digunakan sebagai tanaman perangkap, misalnya bila Anda mengutamakan budidaya tanaman mangga maka disekeliling kebun mangga dapat ditanami jambu air atau belimbing.

DILARANG MENYALIN

Tanaman aromatik atau tanaman yang mampu mengeluarkan aroma, bisa juga digunakan untuk mengendalikan lalat buah. Di antaranya jenis selasih/kemangi (Ocimum) yaitu O.minimum, O.tenuiflorum, O.sanctum dan lainnya. Selain tanaman selasih ada juga tanaman kayu putih (Melaleuca bracteata) dan tanaman yang bersifat sinergis (meningkatkan efektifitas atraktan), seperti pala (Myristica fragans). Semua tanaman ini mengandung bahan aktif yang disukai lalat buah, yaitu Methyl eugenol, dengan kadar yang berbeda.

Dengan menanam salah satu tanaman tersebut disekitar lahan, maka diharapkan dapat mengurangi serangan lalat buah secara signifikan. Minyak kayu putih dan minyak selasih berpeluang menjadi atraktan karena mengandung metil eugenol yang cukup tinggi. Sesuai dengan fungsinya sebagai atraktan, minyak tersebut hanya bersifat menarik lalat buah tetapi tidak membunuhnya. Jadi tujuan sebenarnya hanya untuk mengalihkan perhatian lalat buah dari tanaman budidaya utama. Oleh karena itu, penggunaan minyak tersebut akan lebih optimal bila dilengkapi dengan alat yang dapat menjebak atau menangkap lalat buah.

Pemanfaatan Musuh Alami dan Agens Hayati

Selanjutnya kita juga bisa memanfaatkan musuh alami (natural enemy) untuk menekan populasi lalat buah, baik berupa prasitoid maupun predator. Yang termasuk parasitoid untuk lalat buah di antaranya Biosteres sp  dan  Opius sp, dari famili Braconidae. Adapun predator yang bisa memangsa lalat buah antara lain semut/lebah (hymenoptera), laba-laba (arachnida), kumbang tanah carabid dan staphylinid (coleoptera), cocopet (dermaptera), sayap jala chrysopid (ordo neuroptera) dan kepik penratomid (hemiptera).

Secara Biologi

Pengendalian lalat buah secara biologi bisa dilakukan dengan cara menghasilkan lalat buah jantan yang mandul. Teknik ini memang masih dalam penelitian oleh para ilmuwan, tetapi dianggap kurang praktis karena untuk membuat lalat jantan mandul diperlukan alat dan teknologi khusus.

Untuk menghasilkan serangga jantan mandul biasanya diperlukan sejumlah jenis lalat buah jantan yang disinari dengan sinar gamma (biasanya cobalt 60 atau phosphor 132). Secara teori, cara ini memang cukup ampuh karena populasi lalat di alam secara perlahan-lahan dapat ditekan. Dengan melepaskan lalat jantan yang sudah dibuat mandul, telur yang dihasilkan dari perkawinan dengan lalat betina menjadi steril alias tidak bisa menghasilkan keturunan. Jika sudah mencapai umur maksimal (1-2 bulan), lalat betina akan mati dengan sendirinya, begitu pula dengan lalat jantan mandul yang dilepas.

Penampakan lalat buah betina (kiri) dan jantan (kanan)

Gambar 6. Penampakan lalat buah betina (kiri) dan jantan (kanan)

Meskipun demikian, masih perlu diperhitungkan populasi lalat jantan fertil yang berada di alam sehingga lalat jantan mandul dapat berkompetisi untuk memperoleh betina. Menurut beberapa penelitian, gerakan lalat jantan yang telah dimandulkan menjadi lebih lamban dibandingkan dengan lalat jantan yang ada di alam sehingga sering kalah bersaing dalam memperebutkan lalat betina. Sekali lalat betina dikawini oleh lalat jantan, sperma yang diperoleh akan disimpan di dalam spermateka atau kantung sperma, selanjutnya lalat betina tidak memerlukan sperma lagi. Karena itu, jika lalat jantan mandul yang dilepas berhasil mengawini lalat betina terlebih dahulu, hasil yang diharapkan akan tercapai. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan, lalat jantan mandul lebih banyak kalah bersaing dengan lalat jantan fertil untuk menjadi pejantan pertama yang dapat mengawini lalat betina.

Aplikasi Umpan Protein

Metode lainnya untuk mengendalikan lalat buah adalah penerapan umpan protein, yang mana dapat menarik lalat buah baik jantan maupun betina. Metode ini aman bagi manusia, namun mungkin diperlukan pengetahuan tentang bahan-bahan yang harus digunakan.

Aplikasi umpan protein dapat dilakukan dengan cara memasang tabung/botol umpan protein. 1 liter umpan protein dicampur dengan 9 liter air kemudian ditambah 100 gram sodium benzoate ditambah dengan ME atau Cue lure (bergantung jenis tanamannya) dan 16 ml fipronil atau 10 ml luvinuron. Bahan-bahan umpan protein ini bisa Anda beli di toko-toko bahan kimia atau toko obat pertanian skala menengah-besar.

Setiap 2 minggu sekali tabung diisi ulang dengan 250 ml campuran tersebut. Untuk hamparan tanaman yang luas cukup dipasang 4 buah tabung umpan protein per hektarnya.

Penggunaan Perangkap Atraktan

Salah satu cara yang dianggap paling efektif, mudah dan ramah lingkungan untuk mengendalikan lalat buah adalah penggunaan perangkap atraktan (pemikat) lalat buah. Cara ini dianggap aman karena tidak meninggalkan residu pada komoditas yang ditanam. Bahan pemikat ini biasanya ditempatkan di dalam perangkap berupa botol plastik atau tabung silinder sehingga lalat buah akan masuk dan terperangkap di dalam.

Atraktan dapat digunakan untuk tiga fungsi utama, yakni:

  1. mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah di sekitar lahan budidaya;
  2. menarik lalat buah kemudian membunuhnya dengan menggunakan perangkap;
  3. mengacaukan perilaku kawin, berkumpul, dan perilaku makan lalat buah.

Mekanisme kerja perangkap adalah memancing lalat buah masuk ke dalam perangkap dengan menggunakan methyl eugenol yang ditempatkan di dalam botol perangkap. Di dasar botol perangkap bisa diisi air sehingga sayap lalat buah akan lengket jika menyentuh air tersebut dan akhirnya lalat buah akan mati tenggelam.

Perangkap lalat buah itu sendiri bisa dibuat dari bahan sederhana, pada umumnya adalah bekas botol plastik minuman. Botol ini dimodifikasi sedemikian rupa dan diisi dengan zat pemikat lalat buah yaitu methyl eugenol. Zat pemikat atau atraktan ini bisa kita beli di toko-toko obat pertanian. Walaupun begitu, kita pun bisa menggunakan bahan alami lainnya yang mudah diperoleh dan murah seperti ekstrak daun selasih/kemangi dan daun melaleuca. Bisa pula berupa cue lure atau umpan protein seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Jika mau, atraktan dapat dicampur dengan insektisida dan diteteskan pada kapas, namun hal ini tidak disarankan.

Salah satu produk pemikat lalat buah (methyl eugenol)

Gambar 7. Salah satu produk pemikat lalat buah (methyl eugenol)

Perangkap dipasang pada tiang atau ranting pohon setinggi 2-3 meter dari permukaan tanah. Untuk area lahan 1 hektar, dibutuhkan kurang lebih 16 buah perangkap. Dipasangkan terus menerus selama tanaman berbuah dan zat pemikat harus diisi ulang jika menunjukkan tidak lagi berfungsi.

Ada beragam model rancangan perangkap lalat buah. Di bawah ini adalah salah satu yang biasa digunakan petani. Untuk model racangan lainnya, silakan menuju artikel kami berikutnya pada link berikut.

Pemasangan perangkap metil eugenol lalat buah menggunakan lem

Gambar 8. Pemasangan perangkap metil eugenol lalat buah menggunakan lem

 Secara Kimiawi

Pengendalian lalat buah dengan insektisida berbahan aktif spinosad bisa membunuh lalat buah. Pestisida sebagai umpan dengan bahan aktif spinosad sangat digemari lalat buah baik jantan maupun betina. Namun sayangnya penyemprotan dengan insektisida sering menyebabkan pemborosan karena banyak yang tidak tepat sasaran, mengingat sifat lalat buah yang selalu bergerak. Penggunaan insektisida juga bisa menyebabkan pencemaran lingkungan dan meninggalkan residu yang berbahaya bagi manusia.

Masih ada lagi cara pengendalian lalat buah secara kimia, yakni menggunakan protein baik (pencampuran protein hidrolisat yang merupakan makanan lalat buah dengan insektisida). Namun, cara ini belum populer dilakukan khususnya di Indonesia. Selain itu, daya jangkau efektivitasnya tidak terlampau luas. Keunggulan penggunaan protein baik adalah daya bunuhnya yang tinggi. Jika lalat buah mengonsumsinya, kemungkinan besar akan langsung mati sehingga tidak memerlukan perangkap lagi.

Penggunaan insektisida juga dapat merugikan perdagangan nasional karena produk pertanian yang diekspor bisa ditolak oleh negara tujuan. Oleh karena itu, diperlukan suatu terobosan untuk menemukan cara pengendalian hama lalat buah yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan. TaniOrganik.com


DILARANG MENYALIN

 

tags:

Bookmark this on Google Bookmarks
Bookmark this on Delicious
Share on LinkedIn
Bookmark this on Yahoo Bookmark

Satu komentar untuk Lalat Buah (Bactrocera, sp)

  • Malolo krakatau says:

    Tulisan yang sangat bermanfaat. Bisa dijadikan referensi bagi masiswa yang mengambil jurusan vektor atau kesehatan lingkungan, juga bisa dijadikan rujukan bagi pengelola catering dalam mengelola hygiene sanitasi.
    Informasi yang disajikan sangat ilmiah, serta pencegahan sangat detail sehingga memudahkan untuk diikuti dan diterapkan.

    salam

Comment

CAPTCHA
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>