Belajar Bertani Cabe Keriting, Usaha Sambilan Orang Kantoran – Depok, Jawa Barat

April 15, 2013 Teknik Budidaya  Komentar

pengolahan awal lahan

Kesibukan kerja di kantor asuransi bukan suatu rintangan bagi si bapak yang satu ini untuk menanam cabai. Saking semangatnya, mas Zainik, yang tinggal di Depok, bahkan menyempatkan diri berkunjung ke padepokan kami (Bumi Makmur Walatra) di Tasikmalaya, Jawa Barat, untuk berkonsultasi langsung tentang bagaimana menanam cabai itu… Bagaimana tahapannya, apa yang penting diperhatikan, pupuk apa saja yang harus dipakai, bagaimana penanggulangan hama dan penyakitnya, dan sebagainya…

Inilah lahan yang akan ditanami cabai oleh mas Zainik. Luasnya sekitar 1100 M2. Cukup kiranya untuk sarana belajar bertanam cabai. Karena resikonya yang lumayan besar, menanam cabai memang sebaiknya jangan banyak dulu, khususnya bagi pemula. Seperti yang kita lihat, lahan ini pada awalnya gamblung, alias terlantar atau kurang produktif. Sekarang mau ditanam cabai. Sungguh ide yang bijak yang patut kita tiru…. (semoga mendapat pahala, Mas!)

Lahan kurang produktif yang akan disulap menjadi produktif

Gambar 1. Lahan kurang produktif yang akan disulap menjadi produktif

1. Langkah pertama adalah pembukaan lahan. Meliputi pekerjaan pembersihan ladang, membabat rumput liar, ilalang, dan menebang pohon-pohon yang kurang berguna. Lahan pertanian untuk cabai memang harus sebisa mungkin terbuka, jangan ada penghalang, dalam arti sinar matahari harus full diterima tanaman – dari pagi sampai sore – sehingga proses fotosintesis dapat optimal dan cabai dapat berbuah dengan baik.

2. Pengolahan awal lahan. Tahap berikutnya adalah mengolah lahan, yakni mencangkulnya untuk membalikkan dan menghancurkan tanah. Pastikan pencangkulan ini sampai lembut agar akar cabai dapat berkembang dengan baik sehingga tanaman dapat menyerap dan menjangkau unsur hara dengan baik pula.

Pengolahan awal lahan

Gambar 2. Pengolahan awal lahan

3. Pembentukkan bedeng tanam. Setelah tanah dicangkul lembut, berikutnya kita bentuk menjadi bedeng-bedeng tanam. Masing-masing bedengan diukur dengan tepat, terutama ukuran lebar dan tingginya, dan diset dengan rapi, jangan asal. Kita mungkin memerlukan tambang atau tali rafia untuk menarik garis tepi, dan meteran.

Tidak ada yang baku dalam pembuatan bedengan. Namun yang lazim digunakan oleh petani hortikultura di negara kita adalah:

  • Lebar : 95 cm atau 100 cm
  • Tinggi : 40 cm atau 50 cm
  • Panjang: bebas, tergantung lahan yang ada
  • Sedangkan lebar parit antar bedengan adalah 50 cm atau 60 cm.

Dalam prakteknya, ukuran bedengan di atas biasanya pas sekali saat kita pasang plastik mulsa penutup di atasnya. Berikut ini contohnya:

Contoh desain bedengan - sedang ditutup dengan Mulsa Perak

Gambar 3. Contoh desain bedengan – sedang ditutup dengan Mulsa Perak

Nah, kalau bedengan “made in” mas Zainik, sebagai berikut:

Pembuatan bedengan, namun sayang ukurannya terlalu lebar

Gambar 4. Pembuatan bedengan, namun sayang ukurannya terlalu lebar

Seperti yang Sahabat Organik lihat di atas, desain bedengan mas Zainik lain dari yang lain, di mana lebarnya 150 cm, ini terlalu lebar sehingga akan menyulitkan dalam pemasangan mulsa dan tidak efektif dalam perawatan tanaman nanti. Maklum lah, mas Zainik kan masih belajar… :) Tetap semangat!

4. Penaburan pupuk dasar.

Lahan yang telah kita bentuk bedengan (atau guludan), kemudian kita beri pupuk dasar dengan cara ditabur. Untuk lahan dengan luas 1000 m2, pupuk dasar ini terdiri dari:

  • Kotoran ayam: 20 karung
  • Kotoran kambing/sapi: 20 karung

Pupuk dasar pada bedengan ini selanjutnya kita semprot dengan Pupuk Organik Cair (POC) BMW, dosisnya 4 tutup per tangki 17 liter. Tujuan penyemprotan ini terutama agar pupuk kotoran hewan tersebut cepat lapuk/terurai/matang.

Pupuk Organik Cair (POC) BMW

Setelah disemprot, pupuk dasar selanjutnya kita cangkuli dan diratakan di bedengan.

5. Mengistirahatkan lahan.

Lahan yang sudah diberi pupuk dasar selanjutnya kita istirahatkan selama minimal 15 hari. Tujuannya agar tanah “dingin” dulu, gas amoniak dan gas racun dari kotoran hewan agar menguap dan menghilang.

6. Penutupan bedengan dengan mulsa.

Setelah selesai diistirahatkan, lahan kemudian kita tutup dengan plastik Mulsa, di mana warna perak dari mulsa di bagian atas, sedang warna hitam di bagian bawah.

Kita menggunakan potongan-potongan kecil bambu (panjang 30 cm, lebar 2 cm) untuk menjepit/memaku mulsa ke tanah di setiap tepinya. Jarak antar jepitan ini sekitar 70 cm. (Lihat contohnya pada Gambar 3 di atas).

7. Pelubangan Mulsa.

Setelah Mulsa selesai dipasang, Mulsa kemudian dilubangi. Pelubangan ini menggunakan kaleng susu (atau kaleng lainnya) yang dipanaskan menggunakan arang atau batok kelapa yang dibakar. Berikut ini contohnya:

Cara Melubangi Plastik Mulsa untuk Lubang Tanam

Gambar 5. Cara Melubangi Plastik Mulsa untuk Lubang Tanam

8. Menugal tanah pada lubang tanam.

Pekerjaan kita selanjutnya adalah menugal/menggali tanah sedalam 10 cm pada masing-masing lubang tanam. Lalu kita isi lubang-lubang ini dengan pupuk kimia, berupa:

  • NPK MUTIARA (16-16-16 ). Sekitar 10 butir atau seukuran 2 ujung jari untuk setiap lubang.
  • KNO3 Merah. ┬áSekitar 10 butir atau seukuran 2 ujung jari untuk setiap lubang.

Setelah diberi pupuk, lahan didiamkan dulu 3 hari, baru kemudian bibit dari semaian siap dipindah tanam.

9. Pembuatan panggung semai.

Sementara itu sambil menunggu lahan diistirahatkan (PADA TAHAP 5), kita perlu menyiapkan panggung semai, atau tempat pembibitan cabai sebelum ditanam ke lahan nanti.

Panggung semai bisa dibuat dari bambu atau kayu. Ukurannya tergantung jumlah bibit yang akan disemai. Dalam contoh di sini, ukuran panggung semai:

  • Panjang: 3 meter
  • Lebar: 1,5 meter
  • Tinggi: 0,5 meter

Panggung ini diperkirakan memuat sekitar 2000 bibit lebih.

Pembuatan panggung untuk semai

Gambar 6. Pembuatan panggung untuk menyimpan semai

Mengapa penting pembibitan dibuat panggung? Alasannya terutama untuk menjaga bibit dari gangguan hewan, seperti siput/keong, kucing, ayam, dll. Juga untuk menghindari bibit dari tergenang air hujan (jika musim hujan).

Panggung dibuat layaknya rak, di mana alasnya terdiri dari belahan-belahan bambu yang dipaku. Setelah selesai, kemudian panggung kita tutup dengan plasti UV atau plastik tebal yang bisa menahan sinar matahari. Kerangka plastik ini bentuknya bisa melingkar atau miring.

Berikut ini panggung semai ala mas Zainik yang telah siap pakai :)

Panggung semai siap pakai

Gambar 7. Panggung semai siap pakai 

Tujuan penutupan dengan plasti UV ini untuk menjaga bibit dari hama serangga dan tumpahan air hujan, serta menjaga kelembapan dan suhu ruang.

9. Menyiapkan media semai (polibag).

Media semai adalah tempat di mana biji-biji/benih cabai akan disemai. Para petani umumnya menggunakan plastik polibag kecil, ukurannya 6 x 8 cm. Medianya berupa tanah + kompos, atau tanah + kotoran hewan (yang telah matang). Komposisinya 1 banding 1.

Plastik polibag semai yang telah diisi dengan media semai (tanah+kompos) sampai penuh.

Gambar 8. Plastik polibag semai yang telah diisi dengan media semai (tanah+kompos) sampai penuh.

Plastik polibag ini wajib dibolongi sedikit di bagian bawahnya agar benih tidak tergenang saat disiram air nanti. Bila tergenang, benih bisa busuk. Untuk penjelasan lebih detail tentang pembuatan media semai ini, silakan menuju artikel kami sebelumnya: Yuk, Rame-rame Menanam Cabe Merah Secara Organik di Halaman Rumah! [BAGIAN 2]

Berikut ini adalah polibag-polibag semai punya mas Zainik yang telah diisi dengan tanah + kompos:

Embrat/gembor, perangkat untuk menyiram benih

Gambar 9. Polibag-polinag semai dan embrat/gembor (alat untuk menyiram benih)

Adapun dalam perawatan nanti, kita akan memerlukan gembor/embrat untuk menyiram bibit/benih, seperti pada gambar di atas.

6. Mengecambahkan benih.

Benih cabai yang digunakan

Gambar 10. Benih cabai yang digunakan

aaa

Dengan pemberian POC BMW, benih cabai berkecambah hanya dalam 3 hari diperam

aaa

 

Ada satu tipsnya dari beliau: “jalani sesuatu dengan enjoy”… :)

 

 

 

 

tags:

Bookmark this on Google Bookmarks
Bookmark this on Delicious
Share on LinkedIn
Bookmark this on Yahoo Bookmark

Comment

CAPTCHA
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>