Akar Gada / Akar Bengkak (Plasmodiophora Brassicae) pada Keluarga Kubis dan Sawi

January 6, 2013 Hama & Penyakit  Komentar

akargada2

Mungkin, di antara penyakit yang paling bikin “senud-senud” petani sayuran, terutama petani kubis dan sawi, adalah akar gada atau bengkak akar. Penyakit yang bandelnya minta ampun ini disebabkan oleh cendawan Plasmodiophora brassicae. Penyakit ini termasuk penyakit tular tanah sehingga mudah sekali merembet di antara tanaman di area yang sama. Kerugian yang diakibatkan serangan akar gada bukan main-main. Dalam serangan yang parah, petani bahkan seringkali gigit jari karena gagal panen bisa mencapai 100%!

Dalam bahasa Inggris, akar gada disebut Clubroot. Pernah dianggap sebagai jamur lendir tetapi sekarang dimasukkan ke dalam kelompok Phytomyxea. Secara umum, akibat dari serangan penyakit ini adalah tanaman menjadi layu, pertumbuhan kerdil, kering dan akhirnya mati karena pembengkakan pada jaringan akar. Spora melekat pada akar di mana mereka tumbuh dan menyebabkan pembengkakanPembengkakan akar ini sudah jelas mengganggu translokasi/pengangkutan unsur hara dan air ke jaringan tanaman. Bisa diibaratkan akar tanaman adalah mulut kita. Jika mulut kita bengkak misalnya karena tumor, tentu kita gak bisa makan dan minum. Bayangkan bagaimana jadinya manusia tanpa makan dan minum? Tentu innalillahi bukan? Begitu pun halnya dengan tanaman… :)

Tanaman kubis nampak layu dan kerdil karena akar gada

Gambar 1. Tanaman kubis nampak layu dan kerdil karena terserang akar gada

Penyakit akar gada sering menyerang tanaman keluarga kubis terutama kubis, sawi, kubis brussel. Beberapa jenis sayuran lain pun tak luput dari sasaran namun tak separah kubis; seperti kol, kale, kembang kol (brungkol), brokoli, lobak, kanola, rutabaga.

Gejala

Tanaman yang masih muda mungkin tidak menunjukkan gejala yang berarti saat terserang, namun ketika tanaman semakin dewasa mereka akan mulai menunjukkan gejala klorosis atau menguning, layu selama hari-hari panas, dan pertumbuhan terhambat. Meskipun begitu, gejala-gejala ini terkadang sedikit berbeda di antara jenis tanaman yang berbeda.

Kalau Anda mendapati tanaman layu pada hari-hari kering/panas dan pulih kembali di pagi hari atau setelah matahari turun atau suhu dingin, itulah pertanda awal serangan akar gada. Jika penyakit terus berlangsung, daun akan menguning dan akhirnya mati. Tanaman yang sakit jelas terhambat pertumbuhannya dibandingkan tanaman yang tidak terinfeksi. Tanaman yang sakit biasanya berada di daerah yang lembap atau basah.

Ketika digali, akar menunjukkan berbagai gejala tak lazim: infeksi yang baru akan menyebabkan simpul kecil pada akar, sedangkan infeksi lebih lanjut menampilkan bengkak panjang pada akar primer maupun lateral. Beberapa jenis tanaman, seperti lobak, tidak membentuk bengkak ketika terinfeksi, melainkan luka atau lesi cekung hitam di sepanjang permukaan akar.

Tanaman kubis akhirnya mati karena akar gada

Gambar 2. Tanaman kubis akhirnya mati karena akar gada yang tak tertangani

Penularan

Ada banyak cara bagaimana Plasmodiophora bisa menular:

  • benih dan transplantasi yang terkontaminasi
  • aktivitas hewan
  • aktivitas petani
  • limpasan air tanah, irigasi atau air hujan
  • peralatan yang terkontaminasi

Hebatnya, patogen ini dapat bertahan di lahan selama bertahun-tahun sebagai spora, beristirahat tanpa inang, dan akan menginfeksi tanaman di musim tanam berikutnya jika tanaman tersebut termasuk kelompok yang rentan.

Patogen ini menyukai iklim basah/kondisi lembab, tanah asam dan suhu hangat. Secara teori, kondisi ideal untuk perkembangan penyakit ini berada pada suhu tanah antara 20-24 °C, curah hujan tinggi dan pH kurang dari 6,5. Oleh karena itu, penyakit ini cenderung menonjol di lahan yang lebih rendah di mana air cenderung bermuara.

Akar kubis menjadi bengkak karena terserang akar gada (Plasmodiophora Brassicae)

Gambar 3. Akar kubis menjadi bengkak karena terserang akar gada (Plasmodiophora Brassicae)

Pengendalian

Meskipun sulit untuk memberantas patogen setelah tanaman Anda terinfeksi, namun ada beberapa metode pengendalian untuk meringankannya. Pengendalian ini lebih menitikberatkan pada pola atau perilaku budidaya yang benar dalam rangka manajemen dan kontrol jangka panjang.

  • Terapkan sanitasi yang baik. Praktek sanitasi adalah penting terutama berkaitan dengan kehati-hatian penggunaan alat-alat pertanian, jangan sampai patogen masuk ke lahan kita dari lahan orang lain melalui peralatan kita – misalnya saja akibat pinjam meminjam peralatan. Hal ini mungkin cukup “ribet” dan tidak biasa bagi seorang petani untuk memikirkan hal-hal seperti ini.
  • Teliti mendapatkan benih. Hindari membeli dan menanam benih yang diduga sudah terinfeksi P. brassicae.
  • Perhatikan jenis tanah Anda. Jenis tanah juga perlu dipikirkan. Penggunaan tanah berpasir akan lebih aman dari kemungkinan berkembangbiaknya patogen.
  • Jaga pH tanah Anda sedikit basa (sekitar 7,1 – 7,2). Patogen Plasmodiophora mencintai tanah asam oleh karena itu kita perlu menaikkan pH tanah sehingga menjadi sedikit basa, misalnya dengan menambahkan kapur pertanian atau Kalsium (dengan takaran yang bijak) untuk menghambat perkembangan patogen.
  • Kurangi atau tahan dulu pemberian pupuk kimia – terutama yang mengandung Nitrogen (seperti NPK, ZA, Urea, KNO3). Pupuk seperti ini adalah makanan yang “lezat” bagi cendawan di samping membuat tanah semakin asam, dan bahkan melemahkan daya tahan tanaman karena tanaman menjadi terlalu banyak mengandung “gas”.
  • Lakukan rotasi tanaman – trik ini dapat mengurangi berkembangnya patogen di lahan yang sudah terinfeksi.

Pengendalian Menggunakan Fungisida Hayati 

Sudah bukan rahasia di kalangan petani selama ini bahwa patogen Plasmodiophora atau akar gada sangat sulit dikendalikan setelah tanaman atau lahan terinfeksi. Bahkan solusi fumigasi alias pengendalian menggunakan pestisida kimia (dalam hal ini fungisida) hanya sia-sia belaka, tidak cukup efektif. Lantas, apa yang salah dan apa yang harus dilakukan oleh para petani??

Rahasianya sederhana saja: terapkan pola budidaya yang benar dan kembalilah ke solusi alami !

Fungisida hayati atau Bio fungisida, atau Fungisida organik. Adapun dalam Kami menggunakan fungisida hayati atau organik bernama “NoPATEK” yang kami produksi sendiri. Untuk menanggulangi penyakit cendawan/jamur seperti patek (antraknosa), layu fusarium, busuk daun, busuk batang, akar gada, maupun busuk akibat bakteri.

Lahan Brungkol Bpk Endun, Singaparna, Tasikmalaya

aa

Tanaman Brungkol bpk Endun (Singaparna, Tasikmalaya) tampak sehat dan montok dengan penyemprotan fungisida organik NoPATEK

Sayang kami tidak mendokumentasikan hasil panennya yang kata pemiliknya banyak yang mencapai 2 kg!

 

 

Incoming search terms:

Bookmark this on Google Bookmarks
Bookmark this on Delicious
Share on LinkedIn
Bookmark this on Yahoo Bookmark

Comment

CAPTCHA
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>