5 Langkah Mudah Menanam Sosin Organik di Pekarangan Rumah

October 15, 2013 Teknik Budidaya  3 komentar

menanam sosin di pekarangan 09

Sosin atau caisim atau caisin merupakan tanaman sayuran daun favorit bangsa Indonesia, mulai dari rakyat jelata sampai pejabat. Paling enak disantap dengan mie ayam atau mie instan… hehehe…. Nah, untuk melestarikan budaya turun temurun ini, mari kita dukung dengan “gerakan menanam sosin organik di hamalan rumah”. Adik-adik para remaja dan para ibu yang mempunyai waktu luang di rumah, mari bergabung dengan program sehat dan mulia ini… :)

Menanam sosin, sungguh mudah dan tidak perlu merogoh kocek banyak. Yuk, ikuti tahapannya..

1. Tanah dicangkuli sampai lembut, kemudian dicampur kompos atau pupuk kandang

Hal pertama untuk menanam sosin adalah mencangkuli tanah sampai lembut. Sekali lagi, tanah harus sampai LEMBUT. Jika belum, ulangi lagi pencangkulannya. Tanah yang lembut sangat disukai sosin, sehingga biasanya menghasilkan pertumbuhan yang bagus. Tanah yang liat dan keras akan menyulitkan akar tanaman untuk berkembang dan menyerap hara. Saya sudah sering menanam sosin di lahan pertanian, dan bisa melihat dengan jelas bahwa tekstur tanah yang lembut memberi pengaruh yang besar pada perkembangan tanaman sosin. Jadi, jangan anggap sepele apa yang saya sarankan ini!

Bila tanah Sahabat termasuk kategori keras atau liat, coba tambahkan sekam padi. Alangkah bagusnya sih menggunakan kotoran ayam broiler. Selain mengandung pupuk kandang yang bagus untuk menyuburkan tanaman sosin, kotoran ayam broiler juga biasanya sudah mengandung sekam padi dalam jumlah banyak. Dosis kotoran ayam dengan sekam padi ini sekitar 3-4 kg per meter persegi, syukur-syukur lebih banyak lagi.

Kompos dan kotoran ternak (baik itu kotoran kambing, sapi, ayam, kelelawar (termasuk juga kotoran burung/unggas) kaya akan Nitrogen, di mana merupakan unsur hara utama yang dibutuhan oleh tanaman sayuran daun seperti sosin. Sayuran daun meskipun membutuhkan unsur hara penting lain semisal Fosfat (P), Kalium (K), Magnesium (Mg), dll, namun kadar kebutuhannya tidak setinggi Nitrogen. Maka dari itu, hanya dengan menggunakan kompos dan pupuk kandang (yang dikomposkan dahulu), kita sebetulnya tidak perlu menambahkan lagi pupuk kimia untuk menghasilkan tanaman sayuran daun yang tumbuh subur.

Dalam praktek kali ini, kami hanya menggunakan pupuk kandang burung puyuh sebagai pupuknya, namun kami komposkan dahulu selama kurang lebih 1 bulan dengan campuran serbuk gergaji. (Kebetulan kami mendapat kiriman serbuk gergaji dari seorang kawan). Serbuk gergaji ini kami manfaatkan sebagai pengganti sekam padi untuk membantu melembutkan media tanam/tanah yang keras. 

Para petani sosin dan sawi di sekitar sini yang saya kenal sering menambahkan pupuk kimia (Urea, SP dan KCL) untuk pupuk dasar. Mereka beralasan bahwa bila tidak menambahkan pupuk kimia, hasil panennya tidak memuaskan. Pertumbuhan tanaman tidak naik. Padahal menurut hemat saya, hal itu tidak diperlukan, karena toh mereka juga sudah menggunakan pupuk kandang dalam jumlah besar. Tanaman sayuran daun, akan sangat “berterimakasih” dengan diberikannya kompos/pupuk kandang.

Namun, kenapa para petani ini sering tidak puas dengan hasil panennya bila tidak menambahkan pupuk kimia? Penaburan pupuk kandang ke lahan dalam jumlah yang seabrek-abrek itu seolah tidak mujarab. Tanaman tetap kerdil dan bahkan daunnya sering mengkerut dan menguning! Bagaimana sih, katanya pupuk kandang itu kaya Nitrogen yang bagus untuk daun, kok hasilnya begitu..?

Selidik punya selidik, ternyata hanya ada perbedaan “sedikit saja” dari cara yang kami pakai. Apakah itu…???

Pengomposan. Ya, pupuk kandang yang kami gunakan bukanlah sembarang pupuk kandang, melainkan pupuk kandang yang telah kami komposkan dahulu sebelum ditabur ke lahan!

Itulah rahasianya. Bila para petani umumnya langsung saja menaburkan pupuk kandang “mentah” ke lahan, maka kami mengoposkannya terlebih dahulu selama sekitar 1 bulan. Ingat Sahabat, pupuk kandang mentah ibaratnya beras yang belum jadi nasi. Sebanyak apa pun ditaburkan ke lahan, tanaman akan “malas” memakannya, malah mungkin merasa “diracuni”. Apa bedanya dengan kita bila dikasih beras? Sudah tentu tidak mau langsung dimakan. Beras harus ditanak dulu sampai matang menjadi nasi, dan tidak mau hanya sekedar gigih atau setengah matang… Betul kan…? :)

 

 

 

 

 

 

 

menanam sosin di pekarangan 09

 

***

 

tags:

Bookmark this on Google Bookmarks
Bookmark this on Delicious
Share on LinkedIn
Bookmark this on Yahoo Bookmark

3 komentar untuk 5 Langkah Mudah Menanam Sosin Organik di Pekarangan Rumah

  • denie says:

    baru 1 langkah pa, 4 langkah lagi apa? mohon dilengkapi tulisannya, sangat sy butuhkan, terima kasih, ditunggu tulisan lanjutannya.

  • erli says:

    tanaman caisim di kebun sy pada ambruk terkena hujan deras… sekarang sy mau tanam lagi..terima kasih informasinya…sangat berguna :)

  • Anonymous says:

    trims bos atas infonya supaya dpy d aplikasikan…http://www.vsinetwork.net/?id=idamnurkholis

Comment

CAPTCHA
Reload the CAPTCHA codeSpeak the CAPTCHA code
 

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>